Jangan Takut Rugi karena Gagal Panen, Petani Bisa Asuransikan Lahan Garapannya

Gagal Panen oleh kekeringan (ilustrasi) Gagal Panen oleh kekeringan (ilustrasi)

DetakOKU.com PALEMBANG – Sampai saat ini Asuransi Pertanian yang diselenggarakan dan disediakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian belum terlaksana dan dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani.

Walapun Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat panen raya di Kecamatan Air Sugihan Kabupaten OKI Sumsel didampingi Bupati OKI H Iskandar SE dan Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson, mengatakan, "Petani jangan takut gagal panen, bila perlu lahan pertanian kita asuransikan. Dengan itu, kerugian petani akan diganti," katanya, Kamis (04/02).

Belum dimanfaatkannya asuransi pertanian ini oleh petani, diakui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Holtikultura Sumatera Selatan, Erwin Noor Wibowo di Palembang.

"Ya, memang sampai saat ini belum optimal hanya beberapa daerah seperti OKU Timur dan Musi Rawas yang melaksanakan asuransi pertanian," jelas Erwin, Kamis (04/02).

Dia melanjutkan, asuransi pertanian tersebut sebenarnya merupakan solusi jaminan, jika terjadinya gagal panen, karena itu semestinya tidak perlu ragu untuk mengikuti asuransi pertanian ini. Terlebih lagi biaya premi yang dibayarakan cukup murah hanya Rp 36 ribu per hektar untuk satu musim yakni tiga bulan.

"Sedangkan jaminan yang diterima jika terjadi gagal panen yakni sebesar Rp 6 juta per hektarnya," terangnya.

Saat ini, ujar Erwin, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar ikut berpastisipasi dalam asuransi tersebut, bahkan pihaknya juga akan memperbaiki sistem asuransi tersebut dari waktu ke waktu.

Terkait banjir yang dialami di beberapa daerah, sehingga mengakibatkan terendamnya lahan pertanian, dirinya menerangkan, pihaknya belum mengetahui berapa banyak lahan pertanian yang terendam, mengingat sifat banjir yakni pasang surut.

"Pada saat air pasang maka lahan pertanian mengalami banjir, namun meskipun banjir belum tentu lahan tersebut mengalami puso karena air akan surut kembali," jelasnya.

Meskipun belum tahu angka pasti, sambung Erwin, pihaknya tetap melakukan pengamatan dan pendeteksian karena berdasarkan periode pasang surut, air yang pasang akan segera surut dan pihaknya akan mendata kembali lahan pertanian yang mengalami puso.

"Jika memang terjadi puso maka kami akan memasukan kegiatan-kegiatan sebagai recovery serta kami juga akan meminta bantuan pusat apabila terjadi kegagalan panen karena bencana alam," ujarnya.

Dengan kegiatan dan bantuan tersebut, dirinya berharap target produksi di Sumsel akan tercapai. "Untuk tahun 2016 ini target produksi di Sumsel yakni sebanyak 4,5 juta ton meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 4,2 juta ton," tandasnya

Go to top