Hj Percha Leanpuri Putri Asli Pribumi

DetakOKU.com - Baturaja Timur - Meski kerap diterpa isu miring menjelang Pilkada OKU 9 Desember 2015 mendatang, Hj Percha Leanpuri B.Bus M.BA tetap menyikapinya dengan sabar dan rendah hati. Ia berpendapat, pendidikan politik yang sehat.

Menurut anggota DPD RI ini, adalah pemimpin yang pantang menjelekan pihak lain terutama dihadapan rakyat atau dimuka publik.

"Pendidikan politik di negara demokrasi seperti Indonesia, selayaknya dilakukan dengan cara yang santun dan terhormat. Pemimpin jangan bicara ceplas ceplos di muka umum, sebab apa yang diucapakan pemimpin terlepas dari benar atau salah yang diucapkan itu akan dicatat," ujar Hj Percha.

Sebagai salah satu kandidat yang akan maju dalam memperebutkan kepemimpinan OKU pada Desember mendatang Hj Percha mengaku kerap kali mendapatkan fitnah bahkan ada yang menjurus ke isu SARA (Suku, Agama,Ras, dan Antar golongan). Salah satunya pernyataan yang menyatakan tidak rela Kabupaten OKU dipimpin oleh wanita.

Dan yang tidak kalah mengagetkan justru dirinya dianggap orang asing, bukan masyarakat asli Bumi Sebimbing Sekundang. Banyak contoh kabupaten/kota di Indonesia yang dipimpin wanita justru lebih maju dan dapat mensejahterakan rakyatnya.

Sebut saja Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya (Jawa Timur) periode 2010-2015 yang sukses mengharumkan nama kota Surabaya hingga ke dunia internasional.

Disamping itu, pada masa penjajahan, muncul sejumlah pemimpin dari kalangan wanita yang menjadi panutan. Diantaranya Cut Nyak Dien, RA Kartini, Dewi Sartika yang semuanya terbukti mampu membawa semangat juang di bumi Nusantara.

"Kalau ada oknum yang menyebut Hj Percha bukan orang OKU perlu dipertanyakan, jangan-jangan justru yang bersangkutan bukan orang OKU, sebab Hj Percha asli orang pribumi OKU," tambahnya.

Dipaparkannya, Hj Percha Leanpuri lahir di Belitang (OKU, sebelum dimekarkan pada 2003) pada 24 Juni 1986. Namanya memiliki arti Percha (Percampuran), sedangkan Leanpuri (Lematang, Ogan, Way Umpu, dan komering). Nama ini merupakan percampuran dari daerah asal kedua orang tuanya.

Lematang dan Ogan merupakan asal daerah kelahiran kakek dan nenek dari sisi ibu (Hj Febrita Lustia) yaitu desa Batang Hari, Kecamatan Semidang AJi. Sedangkan Way Umpu, Komering, merupakan daerah kelahiran dari kakek nenek dari sebelah ayahnya (H Herman Deru) yang tinggal di Belitang yang sebelum dimekarkan pada 2003.

Sebelumnya OKU Timur termasuk wilayah Kabupaten OKU. "Nama dari kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sendiri tidak bisa dipisahkan, antara Ogan dan Komering karena orang yang bermukim di Ogan (OKU), Komering (OKU Timur), dan Ranau (OKU Selatan) pada dasarnya adalah penduduk OKU Raya, jadi jangan lupakan sejarah," tambahnya.

Upaya penjegalan terhadap Hj Percha Leanpuri untuk maju sebagai kontestan Pilkada OKU tidak hanya sampai disitu, selain perusakan alat peraga dan tanda gambar, timnya juga kerap kali mendapat rintangan berupa bentuk intimidasi atau menghalangi masyarakat untuk bersilaturahmi dengan Hj Percha Leanpuri.

"Untuk masalah ini saya selaku kandidat, meminta pada tim, dan seluruh pendukung dan simpatisan Hj Percha untuk tetap menjaga etika dan jangan terprovokasi. Sebab pantang bagi kita menjelekan pihak lain, toh masyarakat OKU bisa menilai siapa yang terbaik," pungkas Calon Bupati Perempuan pertama di OKU ini.

Last modified on Friday, 22/05/2015

Go to top